Sosok Pembaru dan Pemimpin Merakyat PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Webmaster   
Selasa, 21 Juli 2009 15:15
“Sebagai kepala daerah, saya harus mengambil kebijakan yang bisa diterima kedua belah pihak, baik oleh jajaran birokrasi sebagai penyelenggara pemerintahan dan masyarakat sebagai komunitas yang harus dilayani oleh penyelenggara pemerintah” ungkap Toni.
Budi Antoni Aljufri kelahiran Tebing Tinggi, 31 Juli 1970 ini termasuk golongan pemimpin muda usia. Tetapi ia bukan muda pengalaman! Budi Antoni memiliki kemampuan dan pengalaman kepemimpinan yang luar biasa, baik selama 5 tahun sebagai anggota dewan dan 4 tahun sebagai Ketua DPRD Kabupaten Lahat dalam usia 34 tahun. Jelas pengalaman ini telah melahirkan tekad Toni untuk menyumbangkan kemajuan bagi daerah kelahirannya, Empat Lawang. Tanggal 26 Agustus 2008 Toni dilantik menjadi Bupati Empat Lawang.
Melihat penampilannya, mungkin tiada yang menduga kalau ia seorang Bupati. Toni sendiri bukanlah sosok yang suka duduk diam di kantornya. Seakan tanpa lelah,  Toni getol turun kebawah untuk memastikan realisasi program-program pembangunan sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Karena kebiasaan itu, tak urung masyarakat pun jadi tak sungkan menyampaikan keluh-kesahnya dan masukan kepada Bupatinya terkait problem mereka. Bahkan Toni membuka hot line dan talk show khusus setiap hari di pagi hari di salah satu radio lokal terkemuka untuk mengundang masyarakat bicara blak-blakan.
Toni adalah tipe pemimpin terbuka yang memberikan ruang bagi masyarakatnya untuk mengkritik, mengadukan, atau memberi saran tentang kinerja baik bagi dirinya sendiri sebagai Bupati dan seluruh aparaturnya.
Jarang bangsa Indonesia menemukan tipe kepemimpinan seperti ini. Pemimpin yang tidak alergi di kritik. Apakah kiat ini akan diikuti oleh seluruh aparaturnya?
Sebagai Bupati muda, Toni terlihat jauh lebih visioner dari usianya. Ia mempunyai kemampuan solutif yang maju dan baru dengan selalu berpegang pada kebutuhan  masyarakatnya secara proporsional, konprehensif dan berkelanjutan sesuai kadar dan sifat permasalahannya.
Ada sisi lain yang mewarnai dan memberi pengaruh sangat mendalam dari sosok dan kepemimpinan Toni, yaitu penghayatannya terhadap filosofi hidup yang dipegangnya. Sederhana dan sesuai dengan jiwanya.
Dengan gaya penampilan ini Toni memang tampil bebas dari formalitas. ”Yang paling penting adalah niat tulus dan kesungguhan untuk memajukan masyarakat .” ujarnya. Diakuinya, kunci sukses pemimpin adalah niat dan  keteladanan.
Bahkan, kunci sukses itu juga berlaku di keluarganya. Menanamkan sikap saling menghargai, mempercayai dan pengertian adalah sisi indah kepemimpinannya selaku kepala keluarga. Dia memerankan bahwa selaku Bupati dirinya tak hanya milik keluarga tapi juga milik masyarakat.
”Terlepas kekurangan dan kelebihan, pejabat publik adalah juga milik masyarakat. Ia harus bisa membagi waktu untuk keluarga dan masyarakat sekaligus sebagai teladan bagi kedua-duanya.” ujar Toni.
Gaya kepemimpinan Toni tampak egaliter, terbuka, komunikatif dan membumi. Susah dipungkiri, Toni adalah sosok pembaru dalam kancah kepemimpinan daerah di Indonesia. Sosok yang lentur bergaul dengan siapa saja. Apa prinsip hidup yang dipegangnya? “Mengalir seperti air”, jawab Toni. Ia menambahkan, “Selalu melihat kedepan tanpa melupakan saat ini”
Bagi Toni “Hidup jangan dilihat pangkalnya, tapi lihat ujungnya.”
Sebuah inspirasi hangat bagi anak bangsa Indonesia.
Selamat berkarya pak Toni...
*) Ndy & DanG
LAST_UPDATED2