Mengapa Setiap Orang bisa dan Mampu Menjadi Pemimpin?
Kepemimpinan tidak sekadar mulai ketika posisi sedang di atas.
Kepemimpinan tidak sekadar mulai ketika posisi sedang di atas.
A Good leader give good order, but the best leader give an example
Sebagai Leader, Anda pasti pernah mengamati. Ada tim yang memiliki performa tinggi, ada yang sebaliknya, dan ada yang biasa-biasa saja. Dalam pengamatan Anda itu, pernahkah terbersit dalam pikiran Anda, mengapa bisa berbeda-beda?
| "Secretary in the Mood" |
|
|
|
Perkantoran, pastinya saya berhubungan dengan sekretaris untuk masalah jadwal ketemu bos alias dewan direksi untuk mendiskusikan kerjaan yang mendesak di kantor. Terkadang untuk bertemu dengan pejabat kantor itu harus bertanya dahulu dengan penjaga gawangnya alias sekretarisnya.
Tentu saja, seorang sekretaris berkuasa atau mempunyai kuasa mengeser waktu pertemuan, bisa diakal-akalin begitulah istilahnya. Ini juga tergantung kepada mood sang sekretaris juga loh? Harus ada pemanisnya bila ada maunya berkomunikasi dengan sekretaris. Contohnya, bila dia sedang bad moody sekali, saya suka mengomentari gaya baju yang dikenakannya dengan mengatakan: “Wah? Mbak hari ini cerah sekali dengan warna baju yang dipakai?” Tentu perasaan menyejukkan akan membuat moodnya sedikit terangkat menjadi membaik, pastinya senyuman tulus yang manis terlontarkan tiada terlihat berpura-pura. Lalu bila senjata pertama tidak terlalu bereaksi, selanjutnya adalah melihat keadaan setempat, bertanya kepada dirinya tentang keberadaan sikapnya, mengapa dia tampak murung atau kurang bersemangat. Menyapa seorang sekretaris yang bekerja di satu kantor adalah wajar, tapi menyapanya dengan tulus dan menjadikan dirinya sebagai teman untuk mencurahkan isi hatinya yang gundah, nah ini yang jarang diminati. Banyak rumors (gossip) kantor yang kerap membicarakan kejelekan sekretaris yang sok tahu dan sok ngatur itu, tapi saya harus bersikap tidak terpengaruh oleh ucapan orang-orang kantor. Toh, sekretaris bukan robot yang harus bekerja 24 jam tanpa hentinya dan tidak mempunyai perasaan kan? Dia juga manusia yang tiada luput dari kesalahan perilakunya. Sisi kebaikannya pasti ada! Dengan membuka percakapan dengan sebuah sikap yang bijaksana, sikap yang tulus mengatakan: “Ada yang bisa saya bantu Mbak?” akan melumerkan moodnya dan menjadikan moment tersendiri menciptakan ikatan emosionalnya. Sudah pasti kejadian tersebut membuka kunci untuk pertemuan-pertemuan ketemuan pejabat kantor yang lebih lancar. Tapi ini bukan dijadikan tameng berpura-pura baik kepada sekretaris agar urusan saya menjadi seperti masuk jalan tol loh?MOODY Apa sih Moody itu?
HOW to SOLVE the MOODY? Bagaimana mengatasi problema MOOD (rasa)? Mood ini bukan milik seorang sekretaris saja loh! Semua orang pasti mempunyai mood (rasa) yang sering berubah-ubah. Dikala senang akan terjadi luapan kegembiraannya dan dikala sedih memuncak pula luapan kesedihannya, dikala marah semua pekerjaan menjadi serba sulit (dijadikan beban pikiran) untuk terselesaikan. Mengatasinyapun tergantung kepada sebuah sikap dan karakter (sifat) manusianya. Sikap mengarah kepada perilaku yang dapat dibentuk untuk menjadi lebih baik dan berlaku benar, sementara sifat bersumber kepada dasar/inti yang telah terbentuk sejak awal dan tidak dapat berubah. Tidak bisa disamakan, tetapi bisa dipelajari dengan tehnik pernafasan dengan terapi mengikuti kelas-kelas Yoga untuk menjaga keseimbangan dalam tubuh yang dapat mempengaruhi perilaku bersikap, ataupun kegiatan yang mencakup dunia hobby (kegemaran) bermanfaat yang dapat melatih kesabaran dan membuat pikiran lebih rileks seperti: berkebun, olah raga, dan lain sebagainya. Kenapa sih Mood ini bisa terjadi? Karena ketidakstabilan dalam diri itu sendiri, mood bisa terjadi dan terikut imbasnya pada lingkungan yang ditempatinya. Banyak sekali pengaruh (dari dalam diri dan luar diri) yang menjadikan ketidakstabilan mood ini, dan pola perilaku kehidupan dari makanan juga menjadi salah satu pengaruh yang tidak banyak dicermati orang. Dijadikan hal biasa karena sudah terbiasa dan menjadi kebiasaan buruk tanpa disadari. Contohnya, orang yang gemar memakan daging akan menjadi lebih bertemperamen mudah marah dan tersinggung jika dibandingkan dengan yang gemar memakan sayur-sayuran atau ikan. Orang yang gemar makan berlebihan pasti berbeda caranya bekerja dengan orang yang menjaga pola keseimbangan dalam makan makanan yang cukup. Bayangkan saja bila perut kekenyangan, bisakah full konsentrasi bekerja? Ruang lingkup pekerjaan kantor dengan kemajemukan lingkungan tentu berpengaruh menjadi lebih berat. Sebagai contoh: ketika bekerja, tentu saja pikiran kita digunakan semaksimal mungkin bila mengerjakan kerjaan dengan konsentrasi yang terfokus bukan? Nah, banyak orang yang tidak dapat berkonsentrasi penuh dalam pekerjaannya, pikirannya sering memikirkan hal lain selain pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Pikiran ini bisa bermacam-macam karena pengaruh dari kejadian yang terbawa oleh rasa perasaan yang membuatnya merasa senang ataupun sedang mengalami kesedihan perasaan. Ini akan mempengaruhi terciptanya mood yang membuat jadi malas atau menjadi giat bekerja. Karena akan menjadi sulit bagi pikiran untuk berkonsentrasi ke dalam pekerjaan apabila ada permasalahan pribadi yang belum teratasi dengan benar dan tuntas, misalnya: masalah keluarga, percintaan, rumah tangga, dan lain sebagainya. Ada juga pengaruh dari luar diri yang mempengaruhi mood sebagai contoh: Bila sedang berkonsentrasi penuh dalam bekerja, tiba-tiba teman sebelah meja bertanya untuk hal-hal pekerjaan yang akan menyita kegiatan pekerjaan yang berlangsung, bisa-bisa mood menjadi kesal untuk melanjutkan pekerjaan yang sedang dikerjakan karena sudah tidak terkonsentrasi lagi (buyar). So (Jadi)? Siapakah yang patut dipersalahkan bila Mood itu terjadi? Ya diri sendiri! Karena keberadaan diri sendiri dengan keterlibatan sikap sendiri itulah yang akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan keberadaan yang ditempati. Toh kesalahan itu dapat diperbaiki oleh diri sendiri pula dengan perubahan sikap sendiri bukan? Baik atau buruknya mood yang ada dalam diri kita bisa menjadikan semua pekerjaan keseharian menjadi lebih ringan (baik) dikerjakan atau sebaliknya merusak suasana pekerjaan itu sendiri. Jangan tergantung oleh Moody, tetapi ciptakanlah Moody! Tentu saja moody yang mempunyai dampak positif bagi lingkungan pekerjaan yah! Feel free to have the MOODY as Good as you can create the great Good Positive One! Secretary in the MOOD? Penulis: JKC Bahan: pengalaman sendiri dan para sahabat |