Angkiran Nasi Kucing PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Webmaster   
Senin, 27 Juli 2009 10:55
Siapa yang tidak kenal angkringan? Warung kecil di pinggir jalan yang menyediakan ”sego” (nasi) kucing itu sudah menjadi gaya hidup masyarakat Yogyakarta dan Solo.
Angkringan atau juga dikenal dengan sebutan warung nasi kucing atau juga warunghik, adalah warung nasi sederhana yang buka malam hari hingga menjelang pagi. Warung angkringan banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun kini, warung angkringan juga sudah mulai merambah Jakarta. Di Yogya dan Solo, angkringan yang dulu menjadi tempat makan murah meriah bagi orang berkantong cekak, kini menjadi tempat nongkrong anak muda berbagai kelas. Boleh dibilang, dari kelas sepeda hingga mobil sedan, semuanya nongkrong di angkringan. Karena pangsa pasarnya berkelas, beberapa angkringan bahkan menyediakan fasilitas hotspot untuk internet Angkringan menyediakan nasi bungkus sekepalan tangan dengan sambal dan beberapa ekor teri goreng serta berharga murah. Masih dengan harga yang relatif murah, lauknya disediakan terpisah, umumnya adalah tempe dan tahu goreng tepung, sate kikil, sate telur puyuh, jeroan ayam, kepala ayam, dan ceker (kaki) ayam. Sementara minumannya berkisar antara kopi, teh manis, teh jahe, dan jeruk hangat. Warung ini punya ciri khas cahaya temaram dari lampu minyak. Ciri khas lainnya adalah teko air dari bahan seng ataupun alumunium dengan gaya kuno. Semuanya diletakkan pada sebuah gerobak kayu.
Tetapi sebenarnya yang membedakan warung ini dengan warung-warung lainnya adalah nasi yang disajikan dinamakan ”nasi kucing” (nasi yang dibungkus daun pisang dan kertas dengan ukuran kecil). Sebagai pelengkapnya terdapat beraneka ragam lauk, yaitu : gorengan tempe, tahu, kepala ayam, ceker ayam, dan bacem.            
Di Jakarta, angkringan pertama kali muncul di kawasan Kali malang. Namun angkringan baru benar-benar mencuri perhatian setelah kemunculan  Warung Kucing Fatmawati di kawasan Fatmawati yang setiap hari ramai dipadati oleh para pengunjung dari berbagai strata sosial.
Wedang secang
Angkringan tidak akan lengkap tanpa wedang-wedangan (aneka minuman panas) yang juga menjadi ciri khas angkringan. Angkringan Yani menyediakan teh manis, teh jahe, susu, susu jahe, kopi, kopi jahe, dan kopi susu, tetapi wedang spesial di angkringan itu adalah wedang secang.        
Wedang secang adalah minuman yang terbuat dari akar pohon secang (Caesalpinia sappan L). Wedang ini dibuat dengan cara merebus akar secang dicampur dengan kayu manis, serai, dan sedikit jahe. Setelah direbus, akar secang dibiarkan terendam air rebusan itu selama satu jam. Semakin lama akar itu direndam, warna wedangnya semakin merah. Wedang ini dipercaya bisa mengobati berbagai macam penyakit, mulai dari masuk angin, diare, batuk darah, hingga tumor. Wedang secang ini bisa dihidangkan dengan susu putih kental manis dan cocok diminum malam hari karena membuat badan terasa hangat.            
Keunikan lainnya dari warung angkringan ini adalah cara pembayaran seusai makan. Sangat kental sekali budaya nusantara yang mereka anut. Adanya keramah tamahan, sopan-santun dan kepercayaan yang paling diutamakan.  Sebaiknya ketika membayar sejumlah makanan yang kita makan dijelaskan secara detailnya, karena mereka, selaku penjual tidak mencatat ataupun mengecek kembali porsi apa yang anda pesan. Bahkan sebaliknya, hanya kepercayaan yang selalu mereka prioritaskan kepada para pembelinya.         
Di tengah menjamurnya kafe dan pusat perbelanjaan mewah di Jakarta, angkringan bisa menjadi pilihan melewatkan malam dengan santai penuh kebebasan dan penuh kebersahajaan.  (Ndy)