Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, Msc.

Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi  secara dahsyat di tahun 2015, dan seperti  menjadi  “public histery”, saat itu, tidak  terlepas dari sasaran pandang publik kepada pembukaan lahan untuk  penanaman sawit. Dan lebih spesifik, tertuju kepada usaha perkebunan konsesi, serta lebih spesifik lagi, terkait dengan kebijakan pelepasan kawasan hutan menjadi  kebun dalam proses yang telah berlangsung belasan hingga puluhan tahun,  yang saat ini dirasa perlu dan sedang dikoreksi. Sungguh tidak mudah, karena pada sisi yang lain, ada  peran penting industri sawit di Indonesia dengan areal tanam sawit tidak kurang dari 11,6 juta hektar  serta   penyerapan tenaga kerja sebanyak 16 juta orang. Oleh karenanya studi yang dilakukan oleh LeadershipPark lnstitute seperti yang disajikan ini menjadi penting dan sangat berarti bagi pengembangan langkah-langkah korektif kebijakan dasar maupun operasionalnya.  Studi ini berupa  potret perspektif pemerintah daerah dan perusahaan perkebunan sawit dalam hal-hal strategis mencakup :  legalitas lahan, sertifikasi ISPO, teknik pembukaan lahan, pengendalian kebakaran, peningkatan ekonomi daerah, ketenagakerjaan, sosial kemasyarakatan, inovasi dan praktek-praktek yang dianggap terbaik di daerah. Muatan ini   sekaligus dapat  menjadi  rekomendasi kelayakan bagi sektor kehutanan, dalam pemanfaatannya untuk perkebunan kelapa sawit.

Penghargaan yang tinggi  kami sampaikan kepada Tim Peneliti LeadershipPark lnstitute  serta semua elemen pendukung dari institusi pemerintah pusat, juga unit-unit industri perkebunan sawit yang telah melakukan praktek-praktek industri yang  baik dan  dengan komitmen tinggi, khususnya dalam kaitan dengan upaya aktif dalam pencegahan dan pengendalian  kebakaran hutan dan lahan;  serta dalam upaya  menjaga kelestarian lingkungan untuk pembangunan yang berkelanjutan.  Upaya yang telah dilakukan ini merupakan wujud nyata dukungan terhadap kebijakan dan langkah pemerintah era Presiden Jokowi yang sangat jelas dan signifikan keberpihakannya kepada lingkungan sesuai pesan UUD 1945 Pasal 28 H Ayat 1, bahwa, “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak mendapatkan pelayanan kesehatan”.

Hutan, dan sawit dengan segala asosiasi persoalannya, mengandung esensi kebijakan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang penuh dengan tantangan, seperti tata kelola ekosistem gambut, kebijakan alokasi kawasan hutan,  pentingnya masyarakat adat  dan hutan adat hingga persoalan keadilan dalam kebijakan alokasi sumberdaya lahan (kawasan hutan khususnya). Semua itu bukan lagi merupakan wacana atau discource, tetapi  merupakan langkah nyata pemerintah yang sedang berlangsung dan memerlukan dukungan para pihak, civil society, akademisi, media dan seluruh masyarakat. Pada konteks inilah maka studi  sawit kita butuhkan dan studi ini  menjadi sangat strategis. Tidak saja untuk keperluan pemerintah dan masyarakat umum, juga penting untuk dunia usaha  yang telah berhasil memberikan  gambaran “best practices industri sawit” yang sudah ada di Indonesia sehingga reputasi industri sawit Indonesia di dunia internasional dapat dikedepankan.
Catatan dalam buku hasil penelitian ini merupakan refleksi  sebagian kecil dari upaya Indonesia sebagai salah satu dari negara-negara  anggota di dunia,    dalam aktualisasi kontribusi kepada dunia, kepada komunitas internasional. Jika dunia berharap Indonesia sebagai salah satu landfacet  penting di dunia, sebagai “paru-paru dunia”, maka dunia juga harus percaya keseriusan lndonesia dalam rangka menjaga lingkungan hidup dalam harmoni  pembangunan dan kedaulatan ekonomi Indonesia. Buku  rangkuman hasil penelitian ini baik untuk menjadi refrensi potret Indonesia. Selamat dan Sukses.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *